Penginjilan Kontekstual dalam Konteks Sekularisme dan Posmodernisme

  • Jaffray Sandang Gereja KIBAID
Keywords: Contextualizing Gospel preaching is a necessity. It cannot be denied that one of the successes in Gospel preaching is due to the contextual method. Secularism, which separates religion from the public sphere, presents its own challenges in Gospel preaching, while postmodernism, which doubts the Gospel's claim to be the only one capable of saving sinners, is a difficult topic to convey. This paper, using descriptive qualitative methods, will provide an overview of the thoughts and values behind secularism and postmodernism, with the hope that Evangelical Practice will become more effective and able to ground the Gospel in secular and postmodern societies. Thus, contextual evangelism for these groups can be carried out by building dialogue, using narrative language, and providing living examples.

Abstract

Melakukan kontekstual dalam pemberitaan Injil adalah sebuah keniscayaan. Tidak dapat dipungkiri salah satu keberhasilan dalam pemberitaan Injil karena adanya metode kontekstual. Sekularisme yang memisahkan agama dari ruang publik menjadi tantangan sendiri dalam pemberitaan Injil, termasuk postmodernisme yang meragukan klaim kebenaran Injil yang satu-satunya bisa menyelamatkan manusia berdosa menjadi hal yang tidak mudah disampaikan. Penulisan ini  menggunakan metode kualitatif deskriptif akan memberikan gambaran pemikiran dan nilai di balik sekularisme dan postmodernisme dengan harapan Praksis Penginjilan akan semakin efektif dan mampu membumikan Injil di kalangan masyarakat sekuler dan postmodern. Dengan demikian Penginjilan kontekstual terhadap kalangan di atas dapat dilakukan dengan cara membangun dialog, menggunakan bahasa narasi, dan memberikan keteladanan hidup.

 

Published
2026-10-31
How to Cite
Sandang, J. (2026). Penginjilan Kontekstual dalam Konteks Sekularisme dan Posmodernisme. Jurnal Misioner, 6(2), 172-187. https://doi.org/10.51770/jm.v6i2.286